Malam Sate Kuda

April 11, 2014

Jogja sedang sedikit gerimis malam itu, kedai es krim di sudut jalan Suroto menjelang tutup, tapi ada saja yang memutuskan untuk tetap disitu, tiga lelaki, empat perempuan, berbincang saling bersilangan, entah topik yang mana yang menjadi utama, entah bacaan, entah menu sate kuda.

Tapi seseorang berambut sepundak, lebih banyak tersenyum, duduk di paling ujung, menikmati lalu lintas obrolan. Atau entah pikirannya sedang melayang.

Lihatlah lebih dekat, masih ada perempuan yang berambut pendek, fit dan ceria, sepertinya hidup adalah untuk dinikmati baginya, selalu cerah menyimak cerita maupun tanya, walaupun belum kenal benar siapa.

Satu perempuan lagi, berkerudung dan berkacamata, level cerianya lebih-lebih dibanding siapapun yang ada disitu, ada saja yang diceritakannya, sepertinya tak ada sesuatu pun yang tak diketahuinya di dunia ini.

Satu lelaki, berambut melebihi rata-rata, tapi bercelana tak panjang, selalu bisa menanggapi siapa saja, akrab dengan siapa saja, kenal dengan setiap sudut Jogja, larut dengan Jogja, apapun tentang Jogja.

Satu lagi lelaki siapa, entah, lupa, satu lagi adalah sedang menuliskan kembali remah-remah ingatannya kala itu sekarang, tapi yang terkumpulkan adalah saat seseorang mendekati mereka, secara tak kentara memberitahukan bahwa kedainya sudah tutup, maka bergegas-gegaslah.  Bersalaman-salamanlah, untuk kemudian entah bersua lagi satu sama lain, atau meneruskan obrolan yang terputus di sudut lain, atau malah melupakannya bahwa malam itu pernah ada.

Tapi malam itu tetaplah ada.

Jomblo : sebuah resensi novel

December 3, 2012

Judul Novel  : “JOMBLO” sebuah komedi cinta
Penulis   : Adhitya mulya
Penerbit  : Gagas Media
Cetakan Pertama  : November 2003
ISBN   : 979-97784-9-2

Tak pelak lagi, novel favorit yang paling saya suka sampai sejauh ini, dan ajaibnya saya belum punya bukunya, adalah karya Adihtya Mulya yang judulnya Jomblo.

Ceritanya berkisar tentang persahabatan empat mahasiswa jurusan Teknik UNB dengan latar belakang, sifat dan kelakuan yang berbeda-beda.  Yaitu Doni  sang playboy, yang punya prinsip bahwa urusan fisik sama cewek harus dipisahkan dan beda dengan urusan hati, lama jomblo karena dekat dengan cewek semata-mata alasan fisik semata.  Olip yang lulusan SMA taruna Nusantara, jomblo karena tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada cewek idamannya. Bimo, anak ilmuwan nuklir yang hobinya ngegenjos dan jomblo akibat sering ditolak cewek, terakhir adalah Agus Gurniwa, tokoh sentral di novel ini yang lama jomblo karena terlalu banyak kriteria untuk cewek idamannya.

Perjuangan empat sahabat itu dalam perjuangan mendapatkan gadis dambaan masing-masing itulah bagian yang paling menarik.  Dimana Doni menjadi bimbang akan prinsipnya sendiri bahwa tak akan mencampuradukkan masalah fisik dan hati wanita.  Bimo berusaha yang bertemu dengan wanita idaman yang dia cuma tahu dari suaranya saja.  Olip yang berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya pada sang Dewi Malam pujaannya.  Juga Agus yang akhirnya mengakhiri jomblonya namun malah mendapatkan masalah dengan ceweknya yang bikin pening.

Ending novel ini saya paling suka.  Realistis.  Tidak semata-mata menyenangkan pembacanya dengan ‘akhir yang bahagia’.  Ke empat sahabat itu akhirnya menemukan jalannya masing-masing, walau harus ada yang dikorbankan demi apa yang diperjuangkan.

Novel Jomblo itu berseting jaman kuliahan, saat status mahasiswa lagi labil-labilnya, dan digambarkan dengan cukup, eh  tampaknya sangat akurat di novel itu, karena jelaslah pengalaman pribadi sepertinya menjadikan alur ceritanya lebih hidup.  Jadi membaca novel itu seakan-akan memutar memori pada saat kos dulu, saat-saat prihatin, terutama pada bagian dompet dan status jomblo berkepanjangan, namun tetap bersemangat dan riang gembira menjalani masa-masa kuliah*malah curcol*

Novel yang menurut saya masuk dalam genre komedi romantis, sesuai taglinenya ; sebuah komedi cinta, menggambarkan lika liku hubungan cowok cewek dari sudut pandang yang berbeda dan sering tanpa kita sadari, bahwa mungkin kita pun pernah mengalami apa yang ada di novel itu.

Tapi sungguh, tak rugi membaca novel itu, berbicara tentang cinta tanpa harus menye-menye, bahkan kadang membuat yang membaca tertawa sekaligus ngaca.
😀

Catatan :
#resensi ini dibuat dal
am rangka mengikuti Quiz Resensi Novel Favorit di blognya @rheinfathia.

#ohya kalau menang saya minta paket hadiah yang kedua yang ada novel Jomblo-nya #pedeJaya

Satu Setengah

October 3, 2012

Jam satu dinihari.  Satu Juli.

Udara masih bercampur karbonmonoksida. Satu malam yang berat. Satu meja kayu satu meter persegi yang kusam. Satu duduk di atas bangku plastik setinggi satu meter, satunya memilih selonjor di bangku kayu sepanjang satu meteran. Serba satu, satu kebetulan.

Sudah satu jam satu menit,Vynil mematikan puntung sigaretnya yang masih sisa setengah. Tidak dengan Piyo yang masih mengisap dalam-dalam filternya yang keempat.

“Jadi besok?” Suara berat itu, mengurai hening berselaput asap satu jam.
“Lama kalo nunggu besok, dua jam lagi saja” Enteng saja melakukan penawaran terhadap waktu rupanya.
“Tapi sekarang sudah jam satu, dinihari !” Suara beratnya meninggi satu oktaf, sedikit kesal.
“Justru, jam segitu pas sepi, kan ?”

Hanya mengangguk.  Bangkit lalu melangkah menuju jip yang terparkir sejak dua jam yang lalu di halaman, tepat di bawah samanea saman.  Sejenak pelan meninggalkan suara kerikil yang dilindas empat roda serempak.  Tersisa Vynil sendirian, menatap lampu merah yang memudar lalu hilang di kegelapan satu dinihari.
.

Jam satu siang, satu Agustus.

Lampu biru 8250 memendar, badannya bergetar.  Sontak tangan kanannya menekan tombol yang merona hijau, setelah sekilas melihat satu nama muncul sebagai pemanggil.

“Halo, kemana aja, sudah sebulan, basi !”
“Heh, aku belum ngomong apa-apa, bro ! main nyamber aja!.”
“Sudahlah, aku kan cuma minta habisin dia, trus ambil jatahmu, abis itu terserah.  Menghilang satu bulan bukanlah pilihan”  Suaranya makin tinggi.
“Aku punya pilihan sendiri”
Vynil tercekat, suara berat itu tak lagi keluar dari handphone yang digenggamnya, tapi lebih berupa bisikan di sisi kanannya.

Belum sempat matanya menoleh ke arah suara.  Kepalanya sudah bergerak terpaksa ke arah sebaliknya, ada suara leher yang patah.

Vynil tersungkur.

 

19 menit.

September 13, 2012

Key mengetuk-ngetuk ujung gelas plastiknya. Masih setengah isinya, pesanan kedua, setelah tiga puluh satu menit, menunggu di bangku merah, di sudut taman kota yang sepi. Terlalu pagi memang untuk menikmati aktifitas bernama menunggu.

Sudut matanya yang menerawang, menembus jalinan dedaunan yang menjadi tabir dari lapis tipis matahari yang membelai wajahnya. Sejuk juga sekaligus melapisinya, limpahan oksigen yang masih membuatnya yakin, dan sabar.

“Delapan belas menit lagi” Dia berkata pada dirinya sendiri, saat waktu sudah di delapan tiga dua menit.

Rencananya sederhana saja, menunggu Roy-nya di bekas SPBU yang berubah menghijau. Beranjak ke Purabaya. Mencari bis yang membaca mereka ke titik terjauh. Lalu menghilang dari dunia. Sementara.

Delapan belas menit sudah berlalu. Membayar air mineralnya. Beranjak ke pinggir jalan. Memutuskan berangkat sendiri.

Tangannya kanannya bergerak, memanggil taksi biru. Taksi yang dipanggilnya menepikan mobilnya mendadak. Di belakangnya sebuah bis yang melaju, tak bisa mengendalikan arah.

Deras, bis menghantam tubuh Key.

Lima menit sebelumnya, Roy gelisah, sudah berkali-kali bis yang ditumpanginya berkali-kali berjalan dengan kecepatan maksimal. Samar mendengar obrolan kenek dan supirnya yang mengeluh tentang rem yang macet, tapi tepat bersikeras memperbaikinya sambil jalan.

Key adalah orang yang tepat waktu, dia pasti ditinggal, seperti sebelum-sebelumnya.

Pikirannya terputus, saat suara supir yang panik, dan bis terus melaju, sampai matanya menangkap sosok yang akan didatanginya. Lurus di depannya, melambaikan tangan.

Kemudian, gelap.

..menikahlah denganku..

January 26, 2012

‘Mbit’
‘Hmm.’
‘Menikah denganku aja yuk !’
‘Hah ?’
Malam minggu keduapuluh tiga pun hening sesudahnya. Sementara supir asik mengendarai bajaj supaya baik jalannya, grong !.

**

‘Mbot’
‘Hmm.’
‘Jadi nggak ?’
‘Eh, apanya?’
‘Menikah denganku.’
‘Hah ?’
Malam minggu keduapuluh lima dihiasi oleh dua wajah yang tertunduk. Tukang kerak telor terus asik bikin gosong masakannya.

**

‘Jadi?’
‘Ya jadi lah !’
‘Menikahlah denganku ?’
Mbit tersenyum, mengangguk.
Mbot menarik tangan mbit.

Sang pembawa acara, memegang mik nya dengan mesra. berbicara lantang tanpa ada nada mesra-mesranya sama sekali.

‘Inilah yang kita tunggu-tunggu. Finalis terakhir malam ini, dengan lagu jadul pilihan mereka, lagu lawas punya Java Jive….’

Mbit gagah menenteng Gibson.
Mbot langsung duduk di belakang Steinway & Sons.

memasuki intro, dan
zap !
‘Yahh, kok mati lampu sih !’

Sah !

January 26, 2012

Cerita cinta yang kebanyakan, adalah membosankan.  Berapa puluh persen coba, berawal dari pertemuan yang kebanyakan juga tak disengaja.  Menjalani masa-masa perkenalan, pendekatan, kemudian pendekatan lagi, dilanjutkan dengan pendekatan lagi, begitu terus sampai akhirnya : menikah.

Seperti yang sedang terjadi saat ini, sesuatu yang sebenarnya sangat tidak dikehendakinya.  Terjadi begitu saja.  Seorang pemuda, gagah, dan seorang pemudi, cantik.  bersanding di depan penghulu, di atas kepala keduanya tersampir selendang.  Keduanya tegang, menunggu saat tangan kanan mempelai laki-laki digenggam dan dijatuhkan, kemudian ijab pun menjadi kabul.

Kenapa, tak ada yang peduli dengan perasaannya.  Dan tololnya, kenapa juga dia mau-maunya menyaksikannya.  Nafasnya sesak, air mata pelan mengalir, ingin menutup kedua telinganya agar kalimat yang diucapkan pak tua berpeci berjas hitam itu tak terdengar.

Toh, akhirnya kalimat itu menelusup deras tanpa ampun ke telinganya.

‘Bagaimana, saksi ? Sah ?’

‘Sah !’

Jauh dari takzim, ucapan itu seperti teriakan.

‘Sah !  Nonton aja kamu, katanya mau beli sayur..!’
‘Sebentar, bu.  Ini mau nonton episode terakhir, nanggung nih..’
‘Eh? Sudah mau habis ya? Kok kamu nggak ngasih tau saya sih, lah jadi mereka kawinnya ? Trus gimana nasibnya si err siapa itu tunanganya itu..’
‘Sstt, ibu ribut aja ih, ntar saya ceritain, nunggu iklan..’

Ini bukan judul terakhir, kok

January 25, 2012

Dua puluh empat halaman, spasi ganda, margin sesuai aturan.  Terjilid rapi.  Dimasukkannya ke dalam map.   Beranjak dari kubikel, lalu mengetuk pintu sebuah ruangan di dekat pintu masuk utama.

‘Masuk !’  Nada berwibawa yang dikenalnya, mempersilahkan.  Pintu terkuak, dan orang yang berbicara singkat barusan, sedan duduk sambil melihat-lihat lembaran kertas berjilid, yang mirip dengan yang digenggamnya.

‘Mana yang saya minta perbaiki kemarin?’
‘Ini, pak’
‘Ok, terimakasih.  Tinggalkan saja, saya mau memeriksa yang lain dulu.’

**

‘Mbak La, dipanggil pak Jarwo’  Kata Tri sambil menjawil pundaknya.
Bergegas masuk ke ruangan yang baru lima belas menit yang lalu dimasukinya itu.

‘Duduk!’  tegasnya, tapi kali ini ada senyum penuh di mukanya.
‘Ada apa ya, pak?’
‘Ini judul laporan terakhir?’
‘Bukan pak, masih ada satu lagi’
‘Oh baiklah, terimakasih untuk laporannya yang ini, rapi, bagus, tapi..’
‘Tapi apa pak ?’

‘Ini halaman ke tujuhbelas ini, maksudnya apa ya, mbak ?’
‘Yang mana ya, pak ?’ Keningnya berkerut sedikit.
‘Coba kamu baca’

/…jadi bisa disimpulkan bahwa realisasi kegiatan belumlah berakhir, ada masa-masa aku merasa tak bisa lagi mengerti bagaimana bisa dia bisa berada disana, tepat dikala aku sedang mengingat dan menginginkannya, langit yang mendung tak menyurutkan niatnya untuk memenuhi janji…/

Sehabis membaca bagian yang ditandai dengan stabillo hijau menyala,  muka La memerah.  Sekilas teringat akan file draft cerita hayalannyanya yang terbuka bersamaan dengan laporan, entah bagaimana ceritanya bisa alur cerpennya terkopi paste di laporan resmi kegiatan kantor.

Setengah berlari tanpa berkata apa-apa.   Saat tangannya memutar pegangan pintu,..

‘Mbak La,  ditunggu kelanjutannya secepatnya ya..’  Sambil tersenyum, tapi terlihat sepertinya bahwa atasannya sedang berusaha menahan tawa.

Kalau Odol Jatuh, Cinta Ngapain ..

January 24, 2012

Hari pertama..

Pohon mangga depan kelas, duduk sendirian, Cinta menikmati bekal dari rumah.  Sendirian.  Yang lain asik bermain.  Bekal dari rumah yang luar biasa : gunkan, shari dan kappa, ada sedikit wasabi juga, padahal dia tidak suka.

‘Bagi dong !’  Seseorang tiba-tiba saja sudah duduk disampingnya sambil cengar cengir.  Cinta menatapnya, seperempat kaget.  Dibalas dengan uluran tangan.

‘Jufri’  Tanpa ragu menyebut namanya sendiri.
‘Namamu kayak ustadz’ , aku Cinta..’
‘Itu sih Jefri namanya !’  Cinta cuma tertawa lalu bersalaman.

‘Itu apaan ?’  Tanya Jufri takjub.
‘Sushi’ Sahut Cinta sambil menyodorkan kotak makanannya, ‘Kamu mau?’  Tawarnya kemudian.

Jufri mengangguk, lalu mengambil sepotonh shari, menowelnya ke wasabi banyak-banyak, memasukkannya langsung ke mulut, dan..

‘Cintah, inih makananh apahanh..?’  Mulut Jufri membentuk huruf O, kepedesan..
Cinta cuma terkikik

**

Hari kedua puluh..

Jufri tidak masuk sekolah.
Cinta mencari-cari di kelas.

**

Hari ke duapuluh dua..

“Kenapa baru cerita, Juf?’
Jufri cuma ketawa.
‘Besok aku bawakan sesuatu untuk kamu ya.
Jufri tak menjawab.

**

Hari ke duapuluh tiga..

‘Odol ?’
‘Katamu kemarin sakit gigi, ini aku bawakan buat kamu.  Makanya sikat gigi yang rajin..’
Jufri tertawa. ‘Makasih ya, kamu maca-macam saja, Ta’

**

Hari ke tigapuluh satu..

Jufri tidak masuk sekolah lagi.
Cinta menanyakan alamat rumah Jufri ke temannya.

**

Hari ke tigapuluh dua..

Pagi-pagi saat menuju sekolah, di perempatan Panglima Polim, Cinta melihat seseorang yang dicarinya kemarin.

‘Jufri !’  Cinta berteriak sesaat setelah jendela mobil terbuka.
yang dipanggil menoleh, lalu melambaikan tangannya.  Hanya sebentar mobil kemudian berlalu membelah kepadatan jalanan,  sementara Jufri masih sibuk.

**

Hari ke tigapuluh tiga..

‘Kamu jualan ?’
Jufri mengangguk lagi.
‘Nanti gimana sekolahmu kalau begitu terus?’
‘Besok aku sudah nggak jualan lagi, kok.’
“jadi?’
‘Bapak sudah pulang, ibu sudah sembuh’  Ada senyum terbit di wajahnya.

‘Jadi, sebenarnya kamu bohong soal sakit gigi kmaren kapan itu?’
‘Maaf..’
‘Asal jangan lag-lagi, mau sushi lagi ?’  Cinta menyodorkan kotak makanannya.
Jufri menggeleng ‘Aku kapok, ah’ Keduanya lalu tertawa lepas.

‘Eh odol yang aku kasih kemarin diapain jadinya?’
“Nggak diapa-apain’
“Loh kok?’
‘Jatuh di jalan pas pulang, tasku bolong, maaf ya..’
Cinta terdiam.
‘Besok deh aku bawain kamu tas ya’

“Kamu apa-apaan sih, tidak usah.., eh udah bel, masuk kelas lagi yuk’
Cinta mengangguk, mengambil kruknya, Jufri membantunya, kemudian keduanya berjalan riang menuju kelas.  Berbaur dengan anak-anak berseragam putih merah lainnya.

Merindukanmu itu seru memang, Tapi …. :|

January 23, 2012

Mengingatmu adalah masa-masa yang tak akan terlupakan.  Walau kamu sendiri tak pernah menjelaskan, apakah ini persahabatan ataukah lebih dari itu.  Berjalan dari gerbang sekolah sampai halte bis pun, tak pernah lepas tanganmu dari genggamanku.  Kamu yang selalu memi ntanya. ‘Nyaman  sih !’  begitu selalu jawabmu singkat jika kutanya kenapa.

Satu tahun berjalan cukup cepat, apalagi selalu ada kejadian seru saat bersamamu.  Kapan pun itu.  Petulangan kita biasanya dimulai usai bubar sekolah.  Kamu rajin menunggu di depan pos satpam.  Karena entah kenapa jadwal pulangmu tampaknya selalu lebih cepat.  Murid-murid sekolah yang beruntung.

Aku masih ingat, di maret, bulan perjalanan pertama kita diwarnai dengan cerita motorku yang mendadak oleng di perempatan.  Lalu kamu terpental dan pingsan, aku sendiri lumayan, cuma lecet-lecet plus dua kaki terkilir hingga tak bisa masuk sekolah selama satu minggu.

Setelah sembuh,  adalah april, saat kamu mengajakku ke pantai, dan kita sukses terseret ombak yang nyaris menyebabkan kita sungkem sama sang ratu penguasa pantai selatan.  Lagi-lagi aku harus masuk rumah sakit selama tiga hari.

Mei, adalah saat konyol kala entah kenapa aku terbujuk rayuanmu untuk mengambil rambutan yang merah menggoda di depan rumah ketua RT mu.  Dan gonggongan anjing pemilik pohon, sukses membuatku meluncur tanpa gaya, tanpa persiapan tentu.  Dua hari terapi lutut ganjarannya.

Pertengahan Juni, sebenarnya adalah menyenangkan, arung jeram di Citarik seharusnya adalah liburan akhir pekan yang menyenangkan.  Tapi jeram sedang tak bersahabat, kita terseret di tengah-tengah arus.  Kamu anehnya selamat, dan aku harus say hello lagi dengan perawat yang tampak bingung sekaligus bosan mungkin melihatku lagi.

Juli, adalah menikmati suntikan anti rabies, saat mencoba memberi makan hearder tantemu yang katamu ramah tamah dengan makhluk apapun.  Aku ternyata adalah satu pengecualian.

Akhir agustus aku masih ingat, berseluncur bebas di lereng Bromo, saat kau memaksa ingin mengambil fotoku bergaya di tepinya.  Empat hari amnesia ganjarannya.

Tanggal sebelas saat september, adalah masa terindah, kala pagi-pagi berboncengan naik sepeda, lalu terjun bebas ke parit di depan sekolahmu.

Oktober aku mulai merasa ada kutukan.  Memikirkan untuk berusaha menjauhimu, dan saat melamun memikirkan itu.  Aku tak sengaja menabrak seorang preman yang sedang bad mood di perempatan.  Mukaku bengkak setelahnya.

November yang ajaib, saat berjalan denganmu, payungku tersambar petir.  OMG, how come ?

Minggu ketiga desember, sok tahu memperbaiki televisi di rumahmu yang mendadak mati.  Sukses kesetrum karena kamu lupa mencabut stekernya.

Awal januari, sesaat kita menikmati kembang api di Monas, satu roket nyasar dan tepat menyambar tengkukku,  Kamu malah sempat menahan tawa.  Ther-lha-lhu !

Bulan kemarin, Februari aku putuskan pindah sekolah, pulang ke kampung nenek, memutuskan untuk menjauh darimu.  Walau kau menangis tak juga mengerti alasannya.  Haruskah dijelaskan lagi, wahai kamu ?  Di perjalanan pulang, kereta terguling.

Sekarang sudah maret lagi, aku sudah menemukan sahabat baru, tadi pagi kami jalan-jalan naik bis kota yang ternyata nyaris mengantarkan kami ke surga.

Dan, sekarang aku sedang di rumah sakit, malah mengingatmu, apakah ..

‘Hai !’  Ada sapaan di depan pintu kamar yang aku kenal.
Sekarang aku tak tahu harus senang apa gemetar melihat kamu membesuk aku.

Tentangmu yang selalu (terasa) manis

January 22, 2012

terlalu manis, untuk dilupakan..

Di pos ronda sudut jalan Sugriwa kampung Krapyak, reffrain lagu legendaris Slank itu terdengar dengan sangat tidak merdu dengan irama staccato.  Empat vokalisnya sedang merayakan gitarisnya yg konon ditolak satu jam yang lalu.  Saat menyatakan keinginan terdalamnya pada gadis yang rumahnya di Kebon Arum yang berhalaman luas dan punya pohon jambu air yang manis.  Bapaknya kepala pengamanan di Paragon.

Ada bungkus kacang dan kulitnya yang rapi di plastik hitam, botol minuman ringan literan, seplastik arem-arem dan sebungkus kertas gorengan.  Tidak ada minuman keras.  ‘Lagi insyaf’  Koor mereka berlima, jika ditanya pemuda komplek yang iseng bertanya pada mereka.  Malam minggu yang manis.

‘Jadi sebenarnya kamu tadi ngomong apaan ‘To?’  Ujo penasaran.  ‘To malah sok sibuk fingering.

Teguh, Zul, dan Sasi ikutan menunggu konferensi pers.  Awal datang memang dia cuma bercerita barusan ditolak Wulan, singkat dan tak jelas.

‘Tidak ngomong apa-apa, kok’
‘Hloh !’  Empat yang lainnya spontan bereaksi kompak.

‘Seperti kisah klasik, baru sampai pintu pagar, ada seorang pemuda bersamanya di kursi depan.  Aku ya langsung aja balik’
‘Yaaahh ! Gimana sih !’  Koor lagi-lagi terdengar.

‘Itu kan artinya Wulan sudah ada yang punya’
‘Itu kesimpulanmu sendiri, belum juga ditanya’  Teguh menyahut.
‘Kita ke rumahnya yuk !’  Zul melempar ide.
‘Tapi…’ Belum habis protesnya, ‘To sudah ditarik.  Tak lama tiga motor berjejeran menuju sasaran.

***

Empat orang dan tiga motor bebek menunggu di bawah jambu air.  ‘To mengetuk pintu.  Arlojinya menunjukkan pukul 10 malam.

Gorden tersingkap dari dalam, seraut wajah semanis jambu air, mengintip.  Lalu suara kunci diputar, lalu pintu yang terbuka.

‘To?  Ada apa malam-malam?’  Ada bingung di parasnya. ‘Yuk, duduk’
‘Tadi aku kesini, tapi rupanya sedang ada tamu’ Basa basi yang sangat klasik.

‘Oh, itu.  Anak lurah sini.  Cuma sebentar kok. Iseng, bilang naksir lah.’  Sahut Wulan ringan.

‘Trus ?’
‘Ya aku bilang saja aku sudah ada yang punya.’
‘Eh?’  Kagetlah ‘To.

‘Aku bilang lagi padanya, mungkin sebentar lagi dia datang’
‘Eh, jadi mau ada yang dateng nih?’
Wulan cuma tersenyum, kali ini semanis jeruk bali yang rimbun di sisi kanan pagar rumah.

‘Bukan, nggak ada yang mau dateng, kok’
‘Lalu?’ ‘To menunggu.
‘Yang aku tungguh sudah dateng kok’

‘Eh, maksud kamu ?’  Pertanyaan klasik lagi.
‘Besok anterin kau ke Tanjung Mas, yuk..’
‘Hah, ngapain ?’
‘Buat nyeburin kamu, supaya otaknya seger.  Habisnya nanya melulu..’
‘Jadi..?’

Wulan cuma tertunduk, ada senyum semanis sawo matang terbit di bibirnya, lalu jatuh tumbuh di lantai dan menjalar ke kaki ‘ To.

‘Woi ! Udah malem, kesimpulannya gimana ?!’
Koor yang tak lagi kompak terdengar dari bawah pohon jambu.

‘Ada apa ribut-ribut di luar?  Wulan, masuk ! Sudah malam !’  Terdengar suara yangn sangat tidak merdu dari dalam.

‘Aku pulang dulu’ ‘ To menggamit tangan Wulan, yang cuma  mengangguk, kemudian berjalan ke arah pintu yang tak lama tertutup.  ‘To melangkah.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi.  ‘To menoleh.
‘Hati-hati di jalan..’  Wulan melambai, ‘To mengangguk.

***

Lima orang pemuda itu masih disana, mendengarkan rencana demi rencana.

‘Jadi rencananya gitu, toh ‘To?’
‘Maunya sih gitu’
‘Trus kenapa ?
‘Mimpi aja udah, ndak usah,  aku merasa ndak pantes..’

‘Jadi, kita ini jadi nggak ke rumahnya nganu,  siapa tadi?’
‘Wulan !’  Empat suaramenyahut.
‘Ndak usah, yuk minum lagi..’
Minuman beredar lagi.

Pos ronda sudut jalan Sugriwa kampung Krapyak, lanjutan reffrain lagu legendaris Slank itu terdengar .

..walau kita memang tak saling cinta, tak kan terjadi..