Suaranya tidak ada lembut-lembutnya. Bariton murni.
‘Diam !’
‘Kasar sekali kau, bang !’
Perjalan singkat saja di malam hari, tapi malah membawa masalah. Sekarang Ririn ada di teras kos New Fleur berhadap-hadapan dengan Masmo. Latree yang sedang membaca koran tadi pagi, terperanjat dan lekas-lekas mendekati mereka.
‘Kalian ini, bisa tenang sedikit nggak sih !’ Lalu melangkah ke dalam, mukanya sewot.
Kepala Ririn dipegang erat.
‘Sakit, bang !’
‘Sebentar aja, nggak sabaran amat!’ Masmo malah mengeratkan kedua telapak tangannya.
‘Woi, diem woi, Gue mau ujian besok !’ Satu lagi teriakan, kali ini dari kamar kedua dari depan, pintunya bertuliskan besar-besar : Rachma Poenya !
Tak lama, malah sebuah skuter memasuki halaman, parkir di dekat pohon aprikot. Penumpangnya, Satria dan Wahyu, tersenyum-masuk memasuki teras. Menyapa iseng.
‘Jiyeee yang lagi pegang-pegangan ..’
‘Diam !’ Berbarengan suara Masmo dan Ririn. Wakyu cepat-cepat menarik tangan Satria, masuk ke ruang tamu.
Saat terasa agak senyap.
Kembali Masmo memegang kepala Ririn, mendekatkan wajahnya ke wajah gadisnya. Ririn memejamkan matanya.
“Buka matamu ! Malah merem !
Ririn langsung membelalakkan matanya.
Dan.
Nafas terhembus kuat-kuat dari mulut Masmo.
‘Udah tuh, apa aku bilang, ada dia kan dimatamu. Bandel sih, makanya kalo jalan keluar pakai kacamata !’
‘Bawel !’ Sahut Ririn, tapi sekarang tersenyum sambil mengucek-ngucek matanya.
‘Makasih ya, ah binatang kecil sialan !’
