Ada dia dimatamu !

January 17, 2012

Suaranya tidak ada lembut-lembutnya.  Bariton murni.

‘Diam !’
‘Kasar sekali kau, bang !’

Perjalan singkat saja di malam hari, tapi malah membawa masalah.  Sekarang Ririn ada di teras kos New Fleur berhadap-hadapan dengan Masmo.  Latree yang sedang membaca koran tadi pagi, terperanjat dan lekas-lekas mendekati mereka.

‘Kalian ini, bisa tenang sedikit nggak sih !’ Lalu melangkah ke dalam, mukanya sewot.

Kepala Ririn dipegang erat.
‘Sakit, bang !’
‘Sebentar aja, nggak sabaran amat!’   Masmo malah mengeratkan kedua telapak tangannya.

‘Woi, diem woi, Gue mau ujian besok !’  Satu lagi teriakan, kali ini dari kamar kedua dari depan, pintunya bertuliskan besar-besar : Rachma Poenya !

Tak lama, malah sebuah skuter memasuki halaman, parkir di dekat pohon aprikot.  Penumpangnya, Satria dan Wahyu, tersenyum-masuk memasuki teras.  Menyapa iseng.

‘Jiyeee yang lagi pegang-pegangan ..’

‘Diam !’  Berbarengan suara Masmo dan Ririn.  Wakyu cepat-cepat menarik tangan Satria, masuk ke ruang tamu.

Saat terasa agak senyap.
Kembali Masmo memegang kepala Ririn, mendekatkan wajahnya ke wajah gadisnya.   Ririn memejamkan matanya.

“Buka matamu !  Malah merem !
Ririn langsung membelalakkan matanya.

Dan.
Nafas terhembus kuat-kuat dari mulut Masmo.

‘Udah tuh, apa aku bilang, ada dia kan dimatamu.  Bandel sih, makanya kalo jalan keluar pakai kacamata !’

‘Bawel !’  Sahut Ririn, tapi sekarang tersenyum sambil mengucek-ngucek matanya.
‘Makasih ya, ah binatang kecil sialan !’

Jadilah milikku, mudah-mudahan kamu mau

January 16, 2012

Minggu pagi, kuputuskan saja menyiapkan semuanya.  Pakaian rapi. Mengikat rambut. Mengenakan pakaian terbaik.  Bagian terakhir, bersiul-siul, menghapalkan sebuah intro.  Sepeda jengki sudah segar menunggu di teras.  Let’s roll !

Jalanan masih sedikit basah sisa hujan semalam, tapi udara terasa hangat oleh matahari delapan lagi.  Biasanya lima menit lagi, dia menunggu di pojok tempat sarapan.

Sudah dua minggu, aku melihatnya disitu.  Menikmati pagi, pertama sendirian saja, minggu kedua bersama rombongan gadis, tapi dia yang paling bersinar.

Aku langsung parkir, sedikit lebih jauh dari titik sasaran.  Berjalan dua puluh meter, mendekati di cantik tepat di saat dia mengangkat sendoknya.

Dan pagi ini,
Sial, dia sekarang berdua !  sungguh lelaki yang beruntung.

Tapi kepalang tanggung, aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.

‘selamat pagi !’
Beberapa pasang mata menatapku.  Termasuk *sigh* lelaki disampingnya itu.

‘untuk si cantik berbaju biru, dengarkanlah..’
Si cantik terperangah,

Aku merapal intro,
“jadilah milikku…

Sumbang ! aku panik..

‘Mudah-mudahan kamu mau..’
Makin sumbang, aku berkeringat dingin..

Lelaki di sampingnya tak sabaran, berdiri dan bergegas mendekatiku.
Sempat tangannya di tahan oleh tangan halus si cantik..
Aku menghentikan nada minorku. bersiap-siap..

‘Udah aja mas, nih..’  Tangan kanannya mengangsurkan seribuan yang terlipat rapi.   Memasukkannya ke kaleng berisi batu.  Instrumenku.

Aku maunya kamu, Titik !

January 15, 2012

Awalnya dia hanya setengah berbisik, tapi itu cukup membikin pagi yang belum begitu ramai seperti terasa meledak.  Tepat di telingaku, yang baru keluar dari gang sempit menuju jalan besar.

Entah kapan dia ada, tahu-tahu saja ada lirih mengalir ke telinga..
‘aku maunya kamu..’
Aku sendiri tak tahu apa maunya berkata begitu.  Alih-alih senang, aku malah bergegas mempercepat langkah.  Dia hanya tersenyum-senyum saja melihatku berlalu.

Siang tadi pas istirahat kerja, aku menyempatkan diri pulang ke rumah, mengambil laptop yang tertinggal, bagian proyek yang harus kelar sore nanti, ada disitu.

Tulisan merah di dinding gang, menyala merah.  Membuat napas tertahan,  membuat siang terasa semakin panas.  Tulisan dengan huruf kapital jelas tergores disana, dengan arang.  Kalimat yang persis seperti bisikan tadi pagi
Ini tampaknya bukan main-main, selepas mengambil laptop, cepat-cepat aku berlari.

Ada apa?‘  Manajerku bertanya singkat,melihatku sesampainya di kubikel.  Aku hanya menggeleng singkat, sambil mencoba menarik napas.  Tak lama menghidupkan laptop, loading.  Dan… sembilan menit kemudian, selagi mencari berkas laporan bulan kemarin, screensaver hidup.  Kalimat itu lagi!  Apa-apaan ini.

Semuanya jadi tergesa-gesa, waktu terasa melambat.  Hingga akhirnya gelap datang, aku harus pulang, kan.  Antara malas, segan dan takut.  Kukemasi semuanya.  Lalu beranjak pulang.

Sesampai mulut gang. Kalimat itu, lagi-lagi ada.  Bukan lagi bisikan, tulisan atau screensaver.  Tapi adalah teriakan !

Aku berlari, dia juga berlari.
Bergegas mengambil kunci rumah, tapi tak ada.

‘Mencari ini?’
Ada seringai di wajahnya, kunci yang kucari ada digenggamannya.  Dia mendekat, aku hanya bisa gemetar.

Tiba-tiba dia luruh dihadapanku, bersimpuh lalu menangis kencang-kencang.
Tangannya kukuh memegang kedua kakiku.

‘Aku maunya kamu, Titik..’

Aku tak kuasa melakukan apa-apa.  Bahkan sekedar memanggil suamiku.  tetangga mulai berdatangan.  Ada seorang ibu-ibu berusaha membujuk lelaki yang tak mau lepas dari sedu sedannya.

Ya namaku Titik.  Dan dia adalah mantan kekasih yang tak mau menerima kenyataan kalau aku sudah resmi menjadi milik orang lain.

Kamu manis, kata siapa?

January 14, 2012

Aku jelas tahulah apa maumu, sebentar-bentar menengok ke belakang, sesaat setelah aku melewatimu.  Kadang mengintip malu-malu dari ujung jalan. Menggoda.

Masalahnya adalah waktu, belum ada waktu yang tepat untuk kita bertemu, kadang malam pun berusaha kucuri waktu, agar sebentar bisa mendekatimu.

Kamu kira cuma kamu yang menginginkanmu, akulah yang lebih menginginkanmu.  Walau kita beda kasta, beda segala-galanya.  Suatu saat kita pasti bersatu, aku janji.

Pagi-pagi tadi, sehabis malam panjang yang melelahkan.  Aku menjumpaimu sendiri di sudut gang.  Berjalan limbung, kudekati kau hanya menatap sayu.

Iya, kamu ternyata memang manis.
Kubelai kamu sebentar, lalu gemetar,
Tak lama kamu malah berontak.
Tapi aku lapar. Hap !

Nah, akhirnya kita bersatu kan? aku sudah menepati janji.
Tubuhmu damai diperutku.

dan cuma sebentar, aku merasa perutku panas, bergejolak.
Pandanganku terasa aneh, nafasku tercekik.

Brengsek, pasti kamu tak berdaya karena makan racun tikus yang dipasang si kurus berkaos hitam itu.

Help !

dag dig dug klik

January 13, 2012

Adalah menunggu, ya aku suka menunggu orang itu.  Lelaki kurus berkaos hitam, bercelana pendek, rambut lurus suka diikat.

Kadang dia melirik, aku tahu dari sudut matanya.  Ada takut disitu.  Ada ragu, bahkan sekedar melewatiku.  Padahal aku cuma diam.  Menyapa pun tak pernah.

Tapi entah kenapa, kemarin sore.
Aku ingin, berkenalan saja.
Sedikit menyebutkan nama.

Begitu aku mengucap sepatah kata, ketakutannya meliar.  Tunggang langgang sampai sandal gunung bertali biru itu terlempar jauh-jauh.

Sore ini, aku melihatnya.
Mungkin balas dendam, mungkin entah apa.
Ada sesuatu di genggamannya, o hitam berkilat-kilat.
Aku jadi berdebar dag dag dag dag.

Dia mendekat, mengarahkannya padaku.
Jarinya bergerak, dan suara itu terdengar jelas.
klik !

Katanya hari ini, aku akan terkenal !

Semangat Biru !

December 12, 2010

Banyak tugas yang masih harus kita selesaikan, woi
berkolaborasilah dengan otak aku.
Read the rest of this entry »

Jalan-jalan

December 11, 2010

Sudah dua kali sih diajak ke tempat dingin ini, di sekitar bukit Manoreh. Kulon progo.

Tak bisa kompak sama modem, sinyal disini ada juga alhamdulillah.

gara-gara bambang

November 2, 2010

blog insidental, insidentil, ekspremental atau apalah yang namanya,
yang sekonyong-konyong dibikin, gara-gara sebuah bambang.
ah mohon maap bagi yang bernama bambang,
soalnya itu hanyalah nama sebuah, alias sebiji leptop yang semena-mena dikasih nama gitu oleh pemiliknya
Read the rest of this entry »

Hello Guk !

November 2, 2010

Pokoknya guk guk !
Lariiiiiiiiiiiiiii !!!
*angkat sendal*


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.