…terlalu manis, untuk dilupakan..
Di pos ronda sudut jalan Sugriwa kampung Krapyak, reffrain lagu legendaris Slank itu terdengar dengan sangat tidak merdu dengan irama staccato. Empat vokalisnya sedang merayakan gitarisnya yg konon ditolak satu jam yang lalu. Saat menyatakan keinginan terdalamnya pada gadis yang rumahnya di Kebon Arum yang berhalaman luas dan punya pohon jambu air yang manis. Bapaknya kepala pengamanan di Paragon.
Ada bungkus kacang dan kulitnya yang rapi di plastik hitam, botol minuman ringan literan, seplastik arem-arem dan sebungkus kertas gorengan. Tidak ada minuman keras. ‘Lagi insyaf’ Koor mereka berlima, jika ditanya pemuda komplek yang iseng bertanya pada mereka. Malam minggu yang manis.
‘Jadi sebenarnya kamu tadi ngomong apaan ‘To?’ Ujo penasaran. ‘To malah sok sibuk fingering.
Teguh, Zul, dan Sasi ikutan menunggu konferensi pers. Awal datang memang dia cuma bercerita barusan ditolak Wulan, singkat dan tak jelas.
‘Tidak ngomong apa-apa, kok’
‘Hloh !’ Empat yang lainnya spontan bereaksi kompak.
‘Seperti kisah klasik, baru sampai pintu pagar, ada seorang pemuda bersamanya di kursi depan. Aku ya langsung aja balik’
‘Yaaahh ! Gimana sih !’ Koor lagi-lagi terdengar.
‘Itu kan artinya Wulan sudah ada yang punya’
‘Itu kesimpulanmu sendiri, belum juga ditanya’ Teguh menyahut.
‘Kita ke rumahnya yuk !’ Zul melempar ide.
‘Tapi…’ Belum habis protesnya, ‘To sudah ditarik. Tak lama tiga motor berjejeran menuju sasaran.
***
Empat orang dan tiga motor bebek menunggu di bawah jambu air. ‘To mengetuk pintu. Arlojinya menunjukkan pukul 10 malam.
Gorden tersingkap dari dalam, seraut wajah semanis jambu air, mengintip. Lalu suara kunci diputar, lalu pintu yang terbuka.
‘To? Ada apa malam-malam?’ Ada bingung di parasnya. ‘Yuk, duduk’
‘Tadi aku kesini, tapi rupanya sedang ada tamu’ Basa basi yang sangat klasik.
‘Oh, itu. Anak lurah sini. Cuma sebentar kok. Iseng, bilang naksir lah.’ Sahut Wulan ringan.
‘Trus ?’
‘Ya aku bilang saja aku sudah ada yang punya.’
‘Eh?’ Kagetlah ‘To.
‘Aku bilang lagi padanya, mungkin sebentar lagi dia datang’
‘Eh, jadi mau ada yang dateng nih?’
Wulan cuma tersenyum, kali ini semanis jeruk bali yang rimbun di sisi kanan pagar rumah.
‘Bukan, nggak ada yang mau dateng, kok’
‘Lalu?’ ‘To menunggu.
‘Yang aku tungguh sudah dateng kok’
‘Eh, maksud kamu ?’ Pertanyaan klasik lagi.
‘Besok anterin kau ke Tanjung Mas, yuk..’
‘Hah, ngapain ?’
‘Buat nyeburin kamu, supaya otaknya seger. Habisnya nanya melulu..’
‘Jadi..?’
Wulan cuma tertunduk, ada senyum semanis sawo matang terbit di bibirnya, lalu jatuh tumbuh di lantai dan menjalar ke kaki ‘ To.
‘Woi ! Udah malem, kesimpulannya gimana ?!’
Koor yang tak lagi kompak terdengar dari bawah pohon jambu.
‘Ada apa ribut-ribut di luar? Wulan, masuk ! Sudah malam !’ Terdengar suara yangn sangat tidak merdu dari dalam.
‘Aku pulang dulu’ ‘ To menggamit tangan Wulan, yang cuma mengangguk, kemudian berjalan ke arah pintu yang tak lama tertutup. ‘To melangkah.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi. ‘To menoleh.
‘Hati-hati di jalan..’ Wulan melambai, ‘To mengangguk.
***
Lima orang pemuda itu masih disana, mendengarkan rencana demi rencana.
‘Jadi rencananya gitu, toh ‘To?’
‘Maunya sih gitu’
‘Trus kenapa ?
‘Mimpi aja udah, ndak usah, aku merasa ndak pantes..’
‘Jadi, kita ini jadi nggak ke rumahnya nganu, siapa tadi?’
‘Wulan !’ Empat suaramenyahut.
‘Ndak usah, yuk minum lagi..’
Minuman beredar lagi.
Pos ronda sudut jalan Sugriwa kampung Krapyak, lanjutan reffrain lagu legendaris Slank itu terdengar .
..walau kita memang tak saling cinta, tak kan terjadi..