..menikahlah denganku..

January 26, 2012

‘Mbit’
‘Hmm.’
‘Menikah denganku aja yuk !’
‘Hah ?’
Malam minggu keduapuluh tiga pun hening sesudahnya. Sementara supir asik mengendarai bajaj supaya baik jalannya, grong !.

**

‘Mbot’
‘Hmm.’
‘Jadi nggak ?’
‘Eh, apanya?’
‘Menikah denganku.’
‘Hah ?’
Malam minggu keduapuluh lima dihiasi oleh dua wajah yang tertunduk. Tukang kerak telor terus asik bikin gosong masakannya.

**

‘Jadi?’
‘Ya jadi lah !’
‘Menikahlah denganku ?’
Mbit tersenyum, mengangguk.
Mbot menarik tangan mbit.

Sang pembawa acara, memegang mik nya dengan mesra. berbicara lantang tanpa ada nada mesra-mesranya sama sekali.

‘Inilah yang kita tunggu-tunggu. Finalis terakhir malam ini, dengan lagu jadul pilihan mereka, lagu lawas punya Java Jive….’

Mbit gagah menenteng Gibson.
Mbot langsung duduk di belakang Steinway & Sons.

memasuki intro, dan
zap !
‘Yahh, kok mati lampu sih !’

Sah !

January 26, 2012

Cerita cinta yang kebanyakan, adalah membosankan.  Berapa puluh persen coba, berawal dari pertemuan yang kebanyakan juga tak disengaja.  Menjalani masa-masa perkenalan, pendekatan, kemudian pendekatan lagi, dilanjutkan dengan pendekatan lagi, begitu terus sampai akhirnya : menikah.

Seperti yang sedang terjadi saat ini, sesuatu yang sebenarnya sangat tidak dikehendakinya.  Terjadi begitu saja.  Seorang pemuda, gagah, dan seorang pemudi, cantik.  bersanding di depan penghulu, di atas kepala keduanya tersampir selendang.  Keduanya tegang, menunggu saat tangan kanan mempelai laki-laki digenggam dan dijatuhkan, kemudian ijab pun menjadi kabul.

Kenapa, tak ada yang peduli dengan perasaannya.  Dan tololnya, kenapa juga dia mau-maunya menyaksikannya.  Nafasnya sesak, air mata pelan mengalir, ingin menutup kedua telinganya agar kalimat yang diucapkan pak tua berpeci berjas hitam itu tak terdengar.

Toh, akhirnya kalimat itu menelusup deras tanpa ampun ke telinganya.

‘Bagaimana, saksi ? Sah ?’

‘Sah !’

Jauh dari takzim, ucapan itu seperti teriakan.

‘Sah !  Nonton aja kamu, katanya mau beli sayur..!’
‘Sebentar, bu.  Ini mau nonton episode terakhir, nanggung nih..’
‘Eh? Sudah mau habis ya? Kok kamu nggak ngasih tau saya sih, lah jadi mereka kawinnya ? Trus gimana nasibnya si err siapa itu tunanganya itu..’
‘Sstt, ibu ribut aja ih, ntar saya ceritain, nunggu iklan..’

Ini bukan judul terakhir, kok

January 25, 2012

Dua puluh empat halaman, spasi ganda, margin sesuai aturan.  Terjilid rapi.  Dimasukkannya ke dalam map.   Beranjak dari kubikel, lalu mengetuk pintu sebuah ruangan di dekat pintu masuk utama.

‘Masuk !’  Nada berwibawa yang dikenalnya, mempersilahkan.  Pintu terkuak, dan orang yang berbicara singkat barusan, sedan duduk sambil melihat-lihat lembaran kertas berjilid, yang mirip dengan yang digenggamnya.

‘Mana yang saya minta perbaiki kemarin?’
‘Ini, pak’
‘Ok, terimakasih.  Tinggalkan saja, saya mau memeriksa yang lain dulu.’

**

‘Mbak La, dipanggil pak Jarwo’  Kata Tri sambil menjawil pundaknya.
Bergegas masuk ke ruangan yang baru lima belas menit yang lalu dimasukinya itu.

‘Duduk!’  tegasnya, tapi kali ini ada senyum penuh di mukanya.
‘Ada apa ya, pak?’
‘Ini judul laporan terakhir?’
‘Bukan pak, masih ada satu lagi’
‘Oh baiklah, terimakasih untuk laporannya yang ini, rapi, bagus, tapi..’
‘Tapi apa pak ?’

‘Ini halaman ke tujuhbelas ini, maksudnya apa ya, mbak ?’
‘Yang mana ya, pak ?’ Keningnya berkerut sedikit.
‘Coba kamu baca’

/…jadi bisa disimpulkan bahwa realisasi kegiatan belumlah berakhir, ada masa-masa aku merasa tak bisa lagi mengerti bagaimana bisa dia bisa berada disana, tepat dikala aku sedang mengingat dan menginginkannya, langit yang mendung tak menyurutkan niatnya untuk memenuhi janji…/

Sehabis membaca bagian yang ditandai dengan stabillo hijau menyala,  muka La memerah.  Sekilas teringat akan file draft cerita hayalannyanya yang terbuka bersamaan dengan laporan, entah bagaimana ceritanya bisa alur cerpennya terkopi paste di laporan resmi kegiatan kantor.

Setengah berlari tanpa berkata apa-apa.   Saat tangannya memutar pegangan pintu,..

‘Mbak La,  ditunggu kelanjutannya secepatnya ya..’  Sambil tersenyum, tapi terlihat sepertinya bahwa atasannya sedang berusaha menahan tawa.

Kalau Odol Jatuh, Cinta Ngapain ..

January 24, 2012

Hari pertama..

Pohon mangga depan kelas, duduk sendirian, Cinta menikmati bekal dari rumah.  Sendirian.  Yang lain asik bermain.  Bekal dari rumah yang luar biasa : gunkan, shari dan kappa, ada sedikit wasabi juga, padahal dia tidak suka.

‘Bagi dong !’  Seseorang tiba-tiba saja sudah duduk disampingnya sambil cengar cengir.  Cinta menatapnya, seperempat kaget.  Dibalas dengan uluran tangan.

‘Jufri’  Tanpa ragu menyebut namanya sendiri.
‘Namamu kayak ustadz’ , aku Cinta..’
‘Itu sih Jefri namanya !’  Cinta cuma tertawa lalu bersalaman.

‘Itu apaan ?’  Tanya Jufri takjub.
‘Sushi’ Sahut Cinta sambil menyodorkan kotak makanannya, ‘Kamu mau?’  Tawarnya kemudian.

Jufri mengangguk, lalu mengambil sepotonh shari, menowelnya ke wasabi banyak-banyak, memasukkannya langsung ke mulut, dan..

‘Cintah, inih makananh apahanh..?’  Mulut Jufri membentuk huruf O, kepedesan..
Cinta cuma terkikik

**

Hari kedua puluh..

Jufri tidak masuk sekolah.
Cinta mencari-cari di kelas.

**

Hari ke duapuluh dua..

“Kenapa baru cerita, Juf?’
Jufri cuma ketawa.
‘Besok aku bawakan sesuatu untuk kamu ya.
Jufri tak menjawab.

**

Hari ke duapuluh tiga..

‘Odol ?’
‘Katamu kemarin sakit gigi, ini aku bawakan buat kamu.  Makanya sikat gigi yang rajin..’
Jufri tertawa. ‘Makasih ya, kamu maca-macam saja, Ta’

**

Hari ke tigapuluh satu..

Jufri tidak masuk sekolah lagi.
Cinta menanyakan alamat rumah Jufri ke temannya.

**

Hari ke tigapuluh dua..

Pagi-pagi saat menuju sekolah, di perempatan Panglima Polim, Cinta melihat seseorang yang dicarinya kemarin.

‘Jufri !’  Cinta berteriak sesaat setelah jendela mobil terbuka.
yang dipanggil menoleh, lalu melambaikan tangannya.  Hanya sebentar mobil kemudian berlalu membelah kepadatan jalanan,  sementara Jufri masih sibuk.

**

Hari ke tigapuluh tiga..

‘Kamu jualan ?’
Jufri mengangguk lagi.
‘Nanti gimana sekolahmu kalau begitu terus?’
‘Besok aku sudah nggak jualan lagi, kok.’
“jadi?’
‘Bapak sudah pulang, ibu sudah sembuh’  Ada senyum terbit di wajahnya.

‘Jadi, sebenarnya kamu bohong soal sakit gigi kmaren kapan itu?’
‘Maaf..’
‘Asal jangan lag-lagi, mau sushi lagi ?’  Cinta menyodorkan kotak makanannya.
Jufri menggeleng ‘Aku kapok, ah’ Keduanya lalu tertawa lepas.

‘Eh odol yang aku kasih kemarin diapain jadinya?’
“Nggak diapa-apain’
“Loh kok?’
‘Jatuh di jalan pas pulang, tasku bolong, maaf ya..’
Cinta terdiam.
‘Besok deh aku bawain kamu tas ya’

“Kamu apa-apaan sih, tidak usah.., eh udah bel, masuk kelas lagi yuk’
Cinta mengangguk, mengambil kruknya, Jufri membantunya, kemudian keduanya berjalan riang menuju kelas.  Berbaur dengan anak-anak berseragam putih merah lainnya.

Merindukanmu itu seru memang, Tapi …. :|

January 23, 2012

Mengingatmu adalah masa-masa yang tak akan terlupakan.  Walau kamu sendiri tak pernah menjelaskan, apakah ini persahabatan ataukah lebih dari itu.  Berjalan dari gerbang sekolah sampai halte bis pun, tak pernah lepas tanganmu dari genggamanku.  Kamu yang selalu memi ntanya. ‘Nyaman  sih !’  begitu selalu jawabmu singkat jika kutanya kenapa.

Satu tahun berjalan cukup cepat, apalagi selalu ada kejadian seru saat bersamamu.  Kapan pun itu.  Petulangan kita biasanya dimulai usai bubar sekolah.  Kamu rajin menunggu di depan pos satpam.  Karena entah kenapa jadwal pulangmu tampaknya selalu lebih cepat.  Murid-murid sekolah yang beruntung.

Aku masih ingat, di maret, bulan perjalanan pertama kita diwarnai dengan cerita motorku yang mendadak oleng di perempatan.  Lalu kamu terpental dan pingsan, aku sendiri lumayan, cuma lecet-lecet plus dua kaki terkilir hingga tak bisa masuk sekolah selama satu minggu.

Setelah sembuh,  adalah april, saat kamu mengajakku ke pantai, dan kita sukses terseret ombak yang nyaris menyebabkan kita sungkem sama sang ratu penguasa pantai selatan.  Lagi-lagi aku harus masuk rumah sakit selama tiga hari.

Mei, adalah saat konyol kala entah kenapa aku terbujuk rayuanmu untuk mengambil rambutan yang merah menggoda di depan rumah ketua RT mu.  Dan gonggongan anjing pemilik pohon, sukses membuatku meluncur tanpa gaya, tanpa persiapan tentu.  Dua hari terapi lutut ganjarannya.

Pertengahan Juni, sebenarnya adalah menyenangkan, arung jeram di Citarik seharusnya adalah liburan akhir pekan yang menyenangkan.  Tapi jeram sedang tak bersahabat, kita terseret di tengah-tengah arus.  Kamu anehnya selamat, dan aku harus say hello lagi dengan perawat yang tampak bingung sekaligus bosan mungkin melihatku lagi.

Juli, adalah menikmati suntikan anti rabies, saat mencoba memberi makan hearder tantemu yang katamu ramah tamah dengan makhluk apapun.  Aku ternyata adalah satu pengecualian.

Akhir agustus aku masih ingat, berseluncur bebas di lereng Bromo, saat kau memaksa ingin mengambil fotoku bergaya di tepinya.  Empat hari amnesia ganjarannya.

Tanggal sebelas saat september, adalah masa terindah, kala pagi-pagi berboncengan naik sepeda, lalu terjun bebas ke parit di depan sekolahmu.

Oktober aku mulai merasa ada kutukan.  Memikirkan untuk berusaha menjauhimu, dan saat melamun memikirkan itu.  Aku tak sengaja menabrak seorang preman yang sedang bad mood di perempatan.  Mukaku bengkak setelahnya.

November yang ajaib, saat berjalan denganmu, payungku tersambar petir.  OMG, how come ?

Minggu ketiga desember, sok tahu memperbaiki televisi di rumahmu yang mendadak mati.  Sukses kesetrum karena kamu lupa mencabut stekernya.

Awal januari, sesaat kita menikmati kembang api di Monas, satu roket nyasar dan tepat menyambar tengkukku,  Kamu malah sempat menahan tawa.  Ther-lha-lhu !

Bulan kemarin, Februari aku putuskan pindah sekolah, pulang ke kampung nenek, memutuskan untuk menjauh darimu.  Walau kau menangis tak juga mengerti alasannya.  Haruskah dijelaskan lagi, wahai kamu ?  Di perjalanan pulang, kereta terguling.

Sekarang sudah maret lagi, aku sudah menemukan sahabat baru, tadi pagi kami jalan-jalan naik bis kota yang ternyata nyaris mengantarkan kami ke surga.

Dan, sekarang aku sedang di rumah sakit, malah mengingatmu, apakah ..

‘Hai !’  Ada sapaan di depan pintu kamar yang aku kenal.
Sekarang aku tak tahu harus senang apa gemetar melihat kamu membesuk aku.

Tentangmu yang selalu (terasa) manis

January 22, 2012

terlalu manis, untuk dilupakan..

Di pos ronda sudut jalan Sugriwa kampung Krapyak, reffrain lagu legendaris Slank itu terdengar dengan sangat tidak merdu dengan irama staccato.  Empat vokalisnya sedang merayakan gitarisnya yg konon ditolak satu jam yang lalu.  Saat menyatakan keinginan terdalamnya pada gadis yang rumahnya di Kebon Arum yang berhalaman luas dan punya pohon jambu air yang manis.  Bapaknya kepala pengamanan di Paragon.

Ada bungkus kacang dan kulitnya yang rapi di plastik hitam, botol minuman ringan literan, seplastik arem-arem dan sebungkus kertas gorengan.  Tidak ada minuman keras.  ‘Lagi insyaf’  Koor mereka berlima, jika ditanya pemuda komplek yang iseng bertanya pada mereka.  Malam minggu yang manis.

‘Jadi sebenarnya kamu tadi ngomong apaan ‘To?’  Ujo penasaran.  ‘To malah sok sibuk fingering.

Teguh, Zul, dan Sasi ikutan menunggu konferensi pers.  Awal datang memang dia cuma bercerita barusan ditolak Wulan, singkat dan tak jelas.

‘Tidak ngomong apa-apa, kok’
‘Hloh !’  Empat yang lainnya spontan bereaksi kompak.

‘Seperti kisah klasik, baru sampai pintu pagar, ada seorang pemuda bersamanya di kursi depan.  Aku ya langsung aja balik’
‘Yaaahh ! Gimana sih !’  Koor lagi-lagi terdengar.

‘Itu kan artinya Wulan sudah ada yang punya’
‘Itu kesimpulanmu sendiri, belum juga ditanya’  Teguh menyahut.
‘Kita ke rumahnya yuk !’  Zul melempar ide.
‘Tapi…’ Belum habis protesnya, ‘To sudah ditarik.  Tak lama tiga motor berjejeran menuju sasaran.

***

Empat orang dan tiga motor bebek menunggu di bawah jambu air.  ‘To mengetuk pintu.  Arlojinya menunjukkan pukul 10 malam.

Gorden tersingkap dari dalam, seraut wajah semanis jambu air, mengintip.  Lalu suara kunci diputar, lalu pintu yang terbuka.

‘To?  Ada apa malam-malam?’  Ada bingung di parasnya. ‘Yuk, duduk’
‘Tadi aku kesini, tapi rupanya sedang ada tamu’ Basa basi yang sangat klasik.

‘Oh, itu.  Anak lurah sini.  Cuma sebentar kok. Iseng, bilang naksir lah.’  Sahut Wulan ringan.

‘Trus ?’
‘Ya aku bilang saja aku sudah ada yang punya.’
‘Eh?’  Kagetlah ‘To.

‘Aku bilang lagi padanya, mungkin sebentar lagi dia datang’
‘Eh, jadi mau ada yang dateng nih?’
Wulan cuma tersenyum, kali ini semanis jeruk bali yang rimbun di sisi kanan pagar rumah.

‘Bukan, nggak ada yang mau dateng, kok’
‘Lalu?’ ‘To menunggu.
‘Yang aku tungguh sudah dateng kok’

‘Eh, maksud kamu ?’  Pertanyaan klasik lagi.
‘Besok anterin kau ke Tanjung Mas, yuk..’
‘Hah, ngapain ?’
‘Buat nyeburin kamu, supaya otaknya seger.  Habisnya nanya melulu..’
‘Jadi..?’

Wulan cuma tertunduk, ada senyum semanis sawo matang terbit di bibirnya, lalu jatuh tumbuh di lantai dan menjalar ke kaki ‘ To.

‘Woi ! Udah malem, kesimpulannya gimana ?!’
Koor yang tak lagi kompak terdengar dari bawah pohon jambu.

‘Ada apa ribut-ribut di luar?  Wulan, masuk ! Sudah malam !’  Terdengar suara yangn sangat tidak merdu dari dalam.

‘Aku pulang dulu’ ‘ To menggamit tangan Wulan, yang cuma  mengangguk, kemudian berjalan ke arah pintu yang tak lama tertutup.  ‘To melangkah.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi.  ‘To menoleh.
‘Hati-hati di jalan..’  Wulan melambai, ‘To mengangguk.

***

Lima orang pemuda itu masih disana, mendengarkan rencana demi rencana.

‘Jadi rencananya gitu, toh ‘To?’
‘Maunya sih gitu’
‘Trus kenapa ?
‘Mimpi aja udah, ndak usah,  aku merasa ndak pantes..’

‘Jadi, kita ini jadi nggak ke rumahnya nganu,  siapa tadi?’
‘Wulan !’  Empat suaramenyahut.
‘Ndak usah, yuk minum lagi..’
Minuman beredar lagi.

Pos ronda sudut jalan Sugriwa kampung Krapyak, lanjutan reffrain lagu legendaris Slank itu terdengar .

..walau kita memang tak saling cinta, tak kan terjadi..

Senyum untukmu yang tampaknya lucu

January 21, 2012

Gerbang sekolah sudah dibuka, penghuninya seperti tawon yang hancur sarangnya. Keluar berpencaran, diiringi koor suara ratusan orang yang berdengung-dengung. Masing-masing sibuk. Masing-masing ngobrol.

Di barisan tawon terakhir, ada ‘Ta dan Sewon. Tapi yang terakhir lebihs ering dipanggil Boi, kebanyakan membaca laskar pelangi, tampaknya.

‘Gue lagi suka sama cowok nih, boi’
‘Oh, ya? siapa korbanmu kali ini?’ Sebuah tendangan melesat ke dahi Sewon.
‘Sembharanghanh, serius nih gue.’
‘Serius sih serius, jidat gue nih’ ‘Ta ngakak.

‘Dia lucu sih, boi’
‘Iya dia itu siapa ? Lukman ketua Osis? hendri sang gitaris? Apa Ujang yang sebentar-bentar suka meringis?’
‘Nggak lah. Mereka nggak level ama gue.’
‘Trus?’
‘Itu lhoh cowok manis yang suka sendirian di depan gang rumah lo itu’

Sewon langsug terbayang seorang pemuda, yang berjins dan jaket lusuh, rambut tak terawat, mata cekung kebanyakan begadang, jalannya suka gontai dan suka iseng menatap orang-orang yang lewat tanpa alasan yang jelas.

‘Maksud lo, preman kampung gang yang sering malakin gue itu?
‘Kenalin dong gue ama dia..’
‘Sedeng lu, ‘Ta’
‘Heh, apaan ?’
‘Lu, gila. Preman pengkolan pasar lu taksir’
‘Dia lucu, boi!’
‘Lucu dari planet sebelah mana ? Ah gila lu mah’
‘Pokoknya dmeikian. Nah tuh dia, samperin dong, boi’
‘Ogah !’
‘Ayoo, demi gue’ Mulai deh mendorong-dorong tubuh Sewon.

Baru juga selangkah terarah.
Si lucu menurut versi ‘Ta edan itu, melotot, menatap tajam ke arah Sewon.
‘Heh ! Apaan lu pake senyum-senyum segala ? Nantangin gue ?’

Sewon mundur. Eh, ‘Ta malah maju mendekat sambil mengulurkan tangan halusnya.

‘Hai, gue boleh kenalan nggak ?’ Sambil melemparkan senyum terbaiknya.
Preman bingung, Boi lari masuk gang.

‘Ta terus saja tersenyum, relief, senyum, relief..

Inilah aku tanpamu di malam yang gelap penuh nyamuk

January 20, 2012

Malam jum’at. Sudah setengah sepuluh. Sudah telat setengah jam dari janjinya. Pohon akasia di depan pagar sekolah dasar depan kantor kecamatan, katanya. Tempat janjian yang sangat tidak menjanjikan, memang.

Selalu berdebar menunggu kedatangannya. Membayangkan petualangan yang sebentar lagi akan kita lakukan, berdua. Iya berdua saja. Karena aku hanya percaya dia, dia juga hanya percaya aku, klop!.

Seperempat jam lagi, memasuki injury time.  Janjinya kalau satu jam tidak datang.  Lupakan saja malam ini.  Tapi bagaimana bisa ?  Aku sangat perlu dirinya malam ini, seperti malam-malam jumat sebelumnya.  Sekarang, malah keluarga besar nyamuk dari got sudah mulai berpesta pora. Plak !

Kemana coba ? Biasanya tak pernah begini, selalu tepat waktu.
Lima menit sebelum aku memutuskan pulang, ada seseorang setengah berlari datang, nafasnya memburu.  Aku menunggu.  Siap-siap.

Tapi, lhoh itu bukan dia. Itu kan …

‘Bang, gawat bang !’  Langsung menyembur begitu saja begitu sampai di depanku.  Pemuda berperawakan kecil itu adik dari orang yang aku tunggu.

‘Apanya yang gawat ? Tarik nafas dulu, whuusaahh..’
‘Tak ada waktu lagi, bang.  Abang harus lari jauh-jauh malam ini juga, sembunyi ke tempat yang aman’

‘Eh, kenapa pula ini?’  Aku mendadak cemas’
‘Tadi Bang Jali ditangkap di rumahnya bang, ya sudah bang itu saja, aku pulang dulu..’  Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, dia kembali lari, hilang di tikungan.

Yah, bang Jali ketangkap lagi.  Padahal dia guru sekaligus patner yang bisa diandalkan dalam setiap aksi kami, menjarah rumahmu !

Inilah aku tanpamu bang Jali.  terpaksa sementara harus lari..

Aku benci kamu hari ini, esok, lusa dan tahun depan

January 19, 2012

..di tempatmu..

‘Ini yang terbaik’  Awalnya kamu berkata begitu saja.  Aku selintas saja melihatnya.

‘Coba dulu. Nggak apa-apa’  Mata dan gestur wajahnya menggoda.  Aku pura-pura tak tertarik.  Mengalihkan pandangan.

‘Nanti nyesel lhoo..’  Sedikit merayu nadanya.

‘Berapa sih ?’ Akhirnya aku terpikat juga.

‘Tiga ratus ribu’  Sambil menebarkan senyum nan wangi ke udara.

. dan sesampainya dirumah..

Tak terjadi apa-apa.  Blank.  Hening.  Senyap.  Suara jangkrik.
Seakan-akan ada tulisan besar-besar : “anda belum beruntung
*sigh*

.kembali ke kamu..

‘Ini aku kembalikan, kembalikan tiga ratus ribuku’
Pura-pura tak mendengar rupanya, sok sibuk dengan yang lain.

‘Hey, kamu !’  Akhirnya nada harus dinaikkan supaya ada perhatian.
‘Iya, kenapa ?’

‘Uangku !’  Eh, datang juga, dengan wajah agak ditekuk.

‘Tidak bisa’ Jawabnya singkat.
‘Katanya boleh dicoba’
‘Iya, nyobanya disini, kalau sudah dibawa bukan jaminan sini lagi’
‘Tapi kan..’  Langsung dipotong aja kalimatku di tengah jalan.
‘Bisa baca nggak, tuh’ Katanya sambil menunjuk ke deretan huruf kecil sekali deh di secarik kertas dibagian paling bawah, nyaris tak terlihat : ‘barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi’
‘Lalu garansinya ?  Katanya setahun”
‘Langsung ke kantor pusatnya , tuh ‘ Sambil cuek menunjukkan sebaris alamat nun jauh di ibukota sana.

Aku terdiam sebentar.  Lalu mendekatinya yang pelan-pelan menjauh.  Memanggilnya pelan.
“Hey, kamu..’
‘Apalag….’
Bletak !
Kalimatnya sekarang terputus oleh kotak berisi speaker 2.1 yang mendarat telak dimulut manisnya.

Sepucuk surat (bukan) dariku tentu

January 18, 2012

Cuma selembar kertas hvs, tanpa amplop.  Terlipat tak rapi, sama sekali tidak simetris, hal yang sangat tidak disukainya.  Tergeletak begitu saja di depan pintu kamarnya.  Hanya dua kata yang tertulis dengan spidol biru, pakai huruf yang terlampau kecil :  untuk unge !

Unge melirik kiri kanan lorong asrama.  Sepi.  Suwung.  Anak-anak yang lain sudah pulang kampung dari kemarin.  Hanya dia sendirian.  Baru sore ini rencananya pulang.  Tiket pesawat untuk hari kemarin entah siapa yang memborong, bisa-bisanya full booked.

Ada sedikit rasa penasaran bercampur takut.  Sepagi ini, artinya tadi malam atau pas subuh seseorang meletakkan kertas itu disitu.

Kertas itu masih digenggamnya.  Berbagai pikiran merasukinya.  Apa ada yang iseng, atau.. Bergegas lipatan kertas itu dibukanya.  Ternyata hanya ada dua kata singkat : bukan dariku..  Kali ini tertulis dengan spidol merah.

Unge mulai bergidik, dia sama sekali tak mengerti maksudnya,sama sekali tak ada petunjuk siapa pengirimnya.

Beberapa detik kemudian, tiba-tiba dia teringat kemarin mendapatkan email yang berisi lampiran file yang terproteksi dari alamat tidak dikenalnya.  Bergegas dia masuk ke kamar.  Mengunci pintu dan membuka folder berisi file, membukanya.  Dan langsung mengetikkan kalimat yang tertera pada kertas di kolom password.

Dan file pun terbuka.  Unge menahan napas.

..
‘nge, maaf harus pakai ribet gini,
tapi aku malu mengatakannya langsung padamu.
aku kemarin kekurangan uang untuk tiket kereta,
dan terpaksa meminjam uangmu tanpa ijin
mau bilang lagi aku malu, sudah terlampau sering sih.

nanti kalau sudah balik asrama,
aku kembalikan deh.
makasih yaa

ttd,
kawan sekamarmu yg pemalu
-wangi-

Unge hanya geleng-geleng kepala.  Minjem uang aja harus segitu rumitnya.  ‘Dasar si wangi !’  Cetusnya dalam hati.

Etapi tunggu, dia ngambil uang yang dimana.  Jangan-jangan..

Bergegas lari membuka lemari, mencari amplop yang rapi disimpannya di bawah tumpukan baju.  Dan tak ada apa-apa disitu.

Sisa uang dan tiket pulang, semua ada disitu.
Nah, lalu nanti pulangnya gimana.
‘Wangiiiiiiiiiii !’  Sekarang dia berteriak keras-keras. Kesal !


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.